Pasar Induk Kramat Jati biasanya tenang saat pukul dua pagi, sebelum para pembeli datang. Namun, malam itu, suhu udara terasa lebih panas dari biasanya. Bukan karena global warming, tapi karena Sawi Putih tidak sengaja menginjak kaki Wortel Impor.
"Heh, sayur pucet! Mata lo di mana? Ini sepatu bot gue baru disemir pakai pestisida!" bentak si Wortel yang badannya sangat oranye karena terlalu sering berjemur.
Sawi Putih yang merasa tersinggung tidak tinggal diam. "Halah, cuma wortel hasil lobi-lobi pelabuhan aja belagu. Sini kalau berani!"
Dalam sekejap, situasi berubah menjadi anarki. Kubis-kubis mulai menggelinding dari rak, membentuk formasi tempur seperti bola meriam. Mereka menghantam barisan Terong Belanda yang sedang asyik dandan.
Kangkung dan Bayam tidak mau kalah. Mereka mengikat diri satu sama lain, membentuk cambuk panjang yang digunakan untuk mencambuk para Kentang yang hanya diam saja, karena kentang memang agak lamban berpikir.
"Serbuuu! Demi kedaulatan vitamin C!" teriak sebuah Jeruk Nipis yang tiba-tiba merasa dirinya adalah jenderal perang.
Senjata yang digunakan sangatlah random. Cabai Rawit melemparkan diri mereka sendiri ke mata lawan. Serangan bunuh diri yang sangat pedas. Seledri digunakan sebagai sumpit sakti untuk menusuk-nusuk Tomat sampai isinya keluar semua. Petai dan Jengkol bertugas sebagai senjata kimia. Mereka hanya perlu berdiri diam, dan musuh-musuh pun pingsan karena aromanya yang menusuk kalbu.
Bu Tejo, pemilik lapak, terbangun karena mendengar suara berisik seperti tawuran anak STM. Saat ia menyalakan lampu, ia melihat pemandangan yang tak masuk akal. Sebuah Timun sedang melakukan aksi gulat kepada seikat Buncis.
"HEI! BERHENTI!" teriak Bu Tejo sambil mengacungkan parang daging.
Seketika, pasar menjadi hening. Sayuran-sayuran itu langsung kembali ke posisi semula. Sawi Putih pura-pura layu, Wortel Impor mendadak kaku, dan Tomat yang sudah bocor berusaha menutupi lukanya dengan label harga.
Bu Tejo mengucek matanya. "Perasaan tadi ada yang teriak merdeka?" gumamnya bingung. Ia kembali tidur, tidak menyadari bahwa di bawah meja, sebutir Bawang Merah sedang menangis sesenggukan karena ditinggal mati oleh pasangannya, si Bawang Putih, yang hancur terinjak dalam pertempuran tadi.
Title: Perang Sayuran di Lapak Bu Tejo
Author: Virgoygsetia
Category: Cerpen, Absurd, Indonesia