Lampu Merah yang Butuh Kasih Sayang

Di perempatan jalan tersibuk di Jakarta, ada sebuah lampu lalu lintas yang dikenal sebagai si merah yang teguh. Biasanya, dia sangat disiplin. Merah, Kuning, Hijau. Setiap detik dihitung dengan presisi militer.

Namun, pada hari Senin pagi yang sangat macet, si Lampu Merah tiba-tiba mogok. Bukan karena mati listrik, tapi karena dia sedang patah hati.

Angka digital di bawah lampu merah itu tidak lagi menunjukkan hitungan mundur, melainkan tulisan: Terserah.

Ribuan kendaraan terjebak. Klakson bersahutan seperti orkestra kiamat. Tiiit! Teeeet! Namun, si Lampu Merah tetap berwarna merah menyala, seolah-olah dia ingin membakar seluruh aspal dengan kekecewaannya.

"Ayo dong hijau! Gue telat rapat!" teriak seorang pengendara motor dari bawah.

Tiba-tiba, pengeras suara yang biasanya dipakai polisi untuk menegur pelanggar justru mengeluarkan suara sesenggukan. "Kalian semua jahat! Tiap hari lewat sini cuma nungguin gue berubah jadi hijau. Pas gue udah hijau, kalian tancap gas tanpa menoleh sedikit pun. Pernah gak ada yang tanya. Lampu, apa kabar? Capek gak berdiri di sini kena polusi terus?"

Jalanan mendadak hening. Para pengendara saling pandang.

"Maafkan kami, Lampu..." sahut seorang sopir angkot dengan ragu.

"Gak mau! Gue mau ganti profesi jadi lampu disko aja di kafe, lebih dihargai!" teriak si Lampu Merah. Lampunya mulai berkedip-kedip galau antara kuning dan merah, persis seperti hati yang sedang bimbang.

Polisi lalu lintas yang bertugas, Pak Bambang, mencoba membujuknya menggunakan toa. "Begini saja, kalau kamu mau berubah jadi hijau sekarang, saya janji besok saya belikan kipas angin kecil biar kamu gak kepanasan di atas sana."

Si Lampu Merah terdiam sejenak. Angka digitalnya berubah menjadi: Janji?

"Janji!" jawab seluruh pengendara kompak secara serentak.

Detik itu juga, lampu langsung berubah menjadi hijau paling cerah yang pernah dilihat manusia. Tapi ada syaratnya. Setiap kendaraan yang lewat wajib membunyikan klakson satu kali dengan nada lembut tit! sebagai tanda terima kasih.

Hari itu, perempatan tersebut menjadi tempat paling sopan di dunia. Orang-orang lewat sambil melambaikan tangan ke arah tiang besi, sementara si Lampu Merah dengan bangga menampilkan emotikon senyum di layar digitalnya.


Title: Lampu Merah yang Butuh Kasih Sayang

Author: Virgoygsetia

Category: Cerpen, Absurd, Indonesia