Pak Kumis baru saja mengangkat satu kloter gorengan dari wajan panasnya. Di antara tumpukan tempe dan tahu, ada satu Bakwan Jagung yang bentuknya paling simetris, mirip konde Nyi Roro Kidul.
Slamet, seorang mahasiswa abadi yang sedang pusing revisi, datang dengan niat mengisi perut. Ia mengambil capitan, mengincar si Bakwan Jagung itu, dan meletakkannya di piring plastik warna hijau yang sudah berminyak.
Baru saja Slamet menyodorkan cabe rawit ke dekat mulutnya, tiba-tiba terdengar suara petikan ukulele entah dari mana.
"Duhai kasih... janganlah kau gigit pipiku yang renyah ini..."
Slamet membeku. Ia menoleh ke kiri dan kanan. Hanya ada Pak Kumis yang sedang mengupil dan seekor kucing kurus yang sedang menjilati aspal.
"Siapa yang nyanyi?" tanya Slamet gemetar.
"Aku, Mas. Di bawah hidungmu," jawab si Bakwan Jagung. Suaranya bariton, sangat merdu, khas penyanyi keroncong tahun 50-an.
Slamet menjatuhkan cabe rawitnya. "Kamu... bakwan jagung bisa ngomong?"
"Bukan cuma ngomong, Mas. Saya punya cita-cita tampil di istana negara," balas si Bakwan sambil sedikit menggoyangkan butiran jagungnya yang cokelat keemasan. "Tolong jangan dimakan dulu. Setidaknya sampai lagu Bengawan Solo selesai saya bawakan."
Maka terjadilah pemandangan paling absurd sore itu. Seorang pemuda duduk tertegun di pojokan warung, sementara di depannya, sepotong gorengan seharga dua ribu rupiah sedang melantunkan lagu-lagu legendaris dengan penuh penghayatan. Pak Kumis yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala.
"Met, kalau stres skripsi jangan ke bakwan. Ke dukun sana," teriak Pak Kumis.
Slamet tidak peduli. Ia justru mengambil botol kecap dan mulai memainkannya seperti perkusi untuk mengiringi si Bakwan. Masalahnya muncul ketika si Bakwan mulai minta dibelikan dasi kupu-kupu supaya tampilannya lebih profesional.
Title: Bakwan Jagung di Warung Pojok
Author: Virgoygsetia
Category: Cerpen, Absurd, Indonesia