Bakso Granat dan Sinyal dari Galaksi

Mas Supri sudah sepuluh tahun jualan bakso di ujung gang. Gerobaknya tampak biasa, kayu kusam, kaca buram, dan bunyi tek-tek-tek yang khas. Namun, ada satu hal yang aneh. Mas Supri selalu memakai kacamata hitam, bahkan saat hujan badai atau gerhana matahari.

Seorang remaja bernama Dimas, yang terlalu banyak menonton film teori konspirasi, mulai menyelidiki. Suatu malam, Dimas bersembunyi di balik tempat sampah saat Mas Supri hendak tutup.

Ia melihat Mas Supri membuka tutup panci baksonya. Bukannya uap panas, yang keluar justru cahaya biru neon dan suara robotik. "Kadar saos sambal di Bumi mencapai 85%. Oksigen mulai terasa seperti kuah kaldu. Segera laporkan ke markas besar."

Dimas kaget dan tidak sengaja menginjak kaleng kerupuk. KRETEK!

Mas Supri menoleh. Kacamata hitamnya terbuka sedikit, menampakkan mata ketiga yang berbentuk seperti butiran bakso urat. "Waduh, ketahuan ya?" ucap Mas Supri santai.

"Mas... Mas itu... alien?" tanya Dimas gagap.

"Bukan alien, Mas Dimas. Saya ini Intelijen dari Planet Ceker-3. Kami dikirim ke Bumi karena planet kami kehabisan bahan bakar nuklir. Ternyata, setelah penelitian ribuan tahun, zat paling kuat di alam semesta adalah campuran MSG, cuka, dan sambal rawit yang ada di kuah bakso abang-abang," jelas Mas Supri sambil mencet-mencet tombol di dalam centongnya.

Ternyata, gerobak bakso itu adalah antena pemancar. Bunyi tek-tek-tek dari kayu yang dipukul sebenarnya adalah kode Morse yang dikirim ke satelit di luar angkasa untuk melaporkan tingkat kebahagiaan manusia setelah makan micin.

"Terus kenapa Mas masih jualan kalau sudah tahu?" tanya Dimas lagi.

"Masalahnya satu, Mas. Komandan saya di sana ketagihan Bakso Granat saya. Dia bilang kalau saya pulang tanpa bawa resep rahasianya, Bumi bakal diledakkan pakai meriam tetelan," kata Mas Supri sambil mendesah. "Makanya, bantu saya ya. Jangan lapor polisi. Kalau saya ditangkap, siapa yang mau nyuapin Komandan saya di galaksi sebelah?"

Sebagai uang tutup mulut, Mas Supri memberikan Dimas seporsi bakso. Ajaibnya, setelah makan bakso itu, Dimas tiba-tiba bisa paham bahasa kucing dan bisa melihat sinyal Wi-Fi yang melayang-layang di udara.

Besoknya, Dimas melihat Mas Supri jualan lagi seperti biasa. Masih dengan kacamata hitamnya, masih dengan bunyi tek-tek-tek-nya. Hanya saja, sekarang setiap kali Mas Supri memukul kayu gerobaknya, Dimas tahu bahwa Mas Supri baru saja mengirim pesan. "Laporan harian. Rakyat Bumi masih suka tambah sambal meski perut sudah meledak. Manusia adalah spesies yang sangat berani."


Title: Bakso Granat dan Sinyal dari Galaksi

Author: Virgoygsetia

Category: Cerpen, Absurd, Indonesia